Pages

Thursday, June 1, 2017

Wawacan Panji Wulung

Wawacan merupakan sebuah karya sastra yang sangat populer pada abad ke-19 sampai abad ke-20 yang disusun dalam bentuk puisi dengan menggunakan aturan pupuh. Di kalangan masyarakat sunda terdapat salah satu wawacan yang sangat populer pada masanya, bahkan menjadi salah satu bacaan yang wajib di sekolah-sekolah Belanda. Judul wawacannya adalah Panji Wulung, yang dianggap sebagai perkembangan modernitas di kalangan masyarakat sunda. Wawacan ini pertama terbit pada tahun 1876 dengan tebal 131 halaman yang berisi 1081 bait pupuh. Wawacan ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu.
Pengarang dari wawacan ini adalah R.H. Muhammad Musa. Beliau lahir di Garut tahun 1822, anak dari Patih Limbangan. Pada tahun 1855, beliau menjadi seorang pemimpin di Limbangan. Selain itu, beliau dikenal sebagai seorang sastrawan.
Menurut Dr. Mikihiro Moriyama, seorang peneliti kebudayaan sunda dari Jepang, wawacan ini termasuk monumental. Bukan karena dicetak dan disebarkan secara luas tetapi karena menggambarkan semangat baru yang digunakan pemerintah Belanda untuk mengubah mental masyarakat pribumi. Wawacan ini menyisipkan pikiran-pikiran modern dengan cara tradisional. Untuk menghargai karya sastra yang monumental ini maka nama Panji Wulung diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota Garut.
Di bawah ini merupakan ringkasan dari wawacan Panji Wulung.

WAWACAN PANJI WULUNG 
Karya R.H. Muhammad Musa
  Pada Zaman dahulu terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sokadana, kerajaannya tentram dan makmur. Rajanya bernama Prabu Dewakeswari, raja yang adil dan bijaksana serta mencintai rakyatnya.
Dalam menjalankan tugasnya raja dibantu oleh seorang patih, yang bernama Patih Lembu Jayeng Pati. Patih tersebut terkenal sangat ahli dalam berbagai bidang dan sangat setia kepada Sang Raja. Raja memiliki selir yang bernama Tunjungsari yang berasal dari Balangbangan. Tunjungsari sangat cantik dan juga memiliki hati yang baik, sehingga raja sangat menyayanginya,  apalagi setelah mengetahui bahwa Tunjungsari sedang mengandung karena Sang Raja belum memiliki seorang anak baik dari Prameswari maupun dari selir-selir yang lainnya.
Prameswari merasa cemburu kepada Tunjungsari, ia berpikir jika Tunjungsari melahirkan maka anak Tunjungsari akan menjadi seorang pangeran yang menggantikan Raja Prabu Dewakeswari serta Tunjungsari akan menggantikan Prameswari sebagai ratu. Tidak ingin hal itu terjadi maka Prameswari memikirkan cara licik untuk menyingkirkan Tunjungsari. Ia mengatakan kepada Sang Raja bahwa anak yang dikandung Tunjungsari bukan anak raja melainkan anak hasil zina dengan pengiringnya yang bernama Panolih. Prameswari telah membayar orang-orang untuk menjadi saksi dan membenarkan fitnah tersebut. Untuk memastikan hal tersebut, raja menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Ajar Guna Wisesa, seorang "orang pintar". Karena Ajar Guna Wisesa telah diberikan bayaran oleh Prameswari, Ia mengatakan bahwa anak yang dikandung Tunjungsari adalah anak dari Panolih bukan Sang Raja. Raja sangat murka dan memerintahkan patih untuk membawa Tunjungsari dan Panolih ke hutan serta menghukum mati keduanya. Akan tetapi, patih tidak tega melakukannya karena ia tahu yang sebenarnya terjadi bahwa ini hanya akal licik dari prameswari. Kemudian patih menyembunyikan Tunjungsari di kampung halamannya dan menyuruh Panolih untuk meninggalkan Sokadana. Patih kembali ke kerajaan dengan membawa potongan telinga dari mayat tahanan untuk dijadikan sebagai bukti.
Beberapa saat kemudian, Tunjungsari melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Panji Wulung. Panji Wulung dibesarkan oleh Patih Sokadana dengan penuh kasih sayang. Ketika berusia 12 tahun, Panji Wulung dididik kekuatannya dengan cara mengangkat timah dan besi yang dari hari ke hari ditambah masanya. Selain itu, Panji Wulung diajarkan kesopanan dan keberanian, serta diajarkan untuk tidak mempercayai hal-hal yang berbau gaib atau hal-hal yang tidak masuk akal. Panji Wulung diajarkan untuk mengembara ketika berusia 14 tahun dengan ditemani oleh dua orang pengiring yaitu Janggala dan Janggali.
Di perjalanannya, Panji Wulung dapat mengalahkan hewan buas dan begal. Setelah itu, Panji Wulung mencari Ajar Guna Wisesa. Apapun yang diajarkan oleh Ajar Guna Wisesa, Panji Wulung menyangkalnya dan mengatakan semuanya adalah bohong. Ketika diminta untuk membuktikan kesaktiannya, Ajar Guna Wisesa murka dan melemparkan batu kepada Panji Wulung. Merasa dihina Panji Wulung membunuh Ajar Guna Wisesa dengan menggunakan belati. Panji Wulung dan pengiringnya melanjutkan perjalanan, Panji Wulung menyesal karena ia telah membunuh seseorang. Akan tetapi, Janggala dan Janggali memberitahukan bahwa Ajar pantas mendapatkannya. Panji Wulung mendapatkan kapal dari seorang petani yang akan berlayar ke Keling. Di kapal, Panji Wulung bertemu dengan seseorang yang bernama Daeng Bramani dan menjadi kerabat.
Panji Wulung, Bramani, Janggala dan Janggali berlayar ke Cempaa serta tinggal sementara di rumah petani sambil bertani. Setahun kemudian, Panji Wulung dan ketiga sahabatnya pergi ke hutan Mereka melihat ada seorang perempuan yang diculik dan meminta tolong. Panji Wulung menyelamatkan perempuan tersebut dan mengalahkan penculiknya. Perempuan tersebut merupakan putri dari Kerajaan Cempa yang telah diculik oleh panglima cempa yang berkhianat. Putri tersebut bernama Andayaningrat.
Panji Wulung dan Andayaningrat saling mencintai. Raja Cempa mengumumkan bagi siapa saja yang menemukan putri maka akan diberi sebagian Kerajaan Cempa. Akan tetapi, Panji Wulung bimbang dan tidak mengantarkan putri ke Kerajaan Cempa. Di sisi lain, Andakasura mengaku telah membunuh panglima yang menculik putri hanya karena ia menemukan mayat panglima tersebut dan mengatakan putri menghilang. Panji Wulung mengirimkan surat kepada raja yang berisi bahwa putri telah selamat. Raja sangat senang dan memerintahkan prajurit untuk menjemput Panji Wulung dan putrinya serta menangkap Andikasura karena telah berbohong kepada raja.
Di Kerajaan Cempa, Panji Wulung diangkat menjadi seorang pangeran dan diberi julukan Dewa Kusumah , serta Daeng Bramani diberi julukan Urawan. Andakasura akan dihukum mati tetapi Panji Wulung meminta untuk memaafkannya dan membebaskan Andakasura.
Andakasura melarikan diri dari Cempa dan tiba di Kerajaan Gilingwesi. Raja Gilingwesi dibujuk untuk menyerang Kerajaan Cempa karena telah menikahkan Putri Andayaningrat dengan Panji Wulung. Raja Gilingwesi terbodohi oleh Andakasura dan berniat menyerang Kerajaan Cempa. Hal ini sampai kepada Kerajaan Cempa oleh Patih Gilingwesi yang ingin membalas dendam kepada Raja Gilingwesi karena telah membunuh pamannya. Raja Cempa mengutus Panji Wulung untuk menghadapi pasukan Gilingwesi. Perang terjadi di pantai. Pasukan Panji Wulung unggul dalam peperangan dan pasukan Gilingwesi yang tersisa digiring ke keraton.
Panji Wulung mengusulkan Sudarma, Patih Gilingwesi yang memberontak kepada rajanya dijadikan Raja Gilingwesi yang baru. Akan tetapi, Raja Cempa mengatakan lebih baik Sudarma dijadikan Patih Cempa dan Bramani menjadi Raja Gilingwesi. Pada malam harinya, diadakan pesta kemenangan. Sudarma dikembalikan ke Gilingwesi untuk menjadi Patih Gilingwesi dan diberi julukan Sularudira setelah belajar ilmu kenegaraan di Kerajaan Cempa.
Kerajaan Cempa menjadi lebih maju. Petani dan istrinya yang rumahnya pernah menjadi tempat tinggal sementara oleh Panji Wulung diundang ke keraton.  Di dalam hati kecilnya, Panji Wulung sangat merindukan ayah angkatnya, Patih Sokadana. Panji Wulung mengutus Janggala dan Janggali untuk mengirimkan surat kepada Patih Sokadana dan memberitahu bahwa ia telah menjadi seorang putra mahkota di Cempa.
 Di Sokadana, Patih Sokadana, istrinya dan Tunjungsari mengkhawatirkan Panji Wulung. Ketika Janggala dan Janggali memberikan surat dari Panji Wulung mereka sangat bahagia. Janggala dan Janggali menceritakan semua kejadian yang telah dialami Panji Wulung sehingga menjadi seorang putra mahkota Cempa. Ketika Janggala dan Janggali akan kembali ke Kerajaan Cempa, Patih Sokadana memberikan surat untuk diberikan kepada Panji Wulung yang menceritakan kehidupan Panji Wulung yang sebenarnya dan siapa orangtua Panji Wulung yang sebenarnya. Dan diceritakan juga Patih Sokadana memiliki seorang putra yang bernama Panji Pamekas yang sangat disayangi oleh Raja Sokadana karena Sang Raja tidak memiliki seorang anak.
Ketika surat tersebut sampai kepada Panji Wulung, Panji Wulung sangat kaget dan merelakan Panji Pamekas menjadi putra mahkota Sokadana untuk membalas budi Patih Sokadana. Tak lama kemudian, Raja Cempa sakit parah dan menyampaikan wasiat bahwa Panji Wulung yang harus menggantikan ia sebagai raja. Raja meninggal dunia dan Panji Wulung menjadi Raja Cempa.
Di Sokadana, Raja Sokadana yang sudah tua menyampaikan ingin memberikan Kerajaan Sokadana kepada Pamekas. Raja Sokada mengaku menyesal telah menghukum mati  Tunjungsari, selirnya. Patih Sokadana menjelaskan semuanya bahwa ia tidak membunuh Tunjungsari dan Panolih serta memberitahukan bahwa semua yang terjadi adalah akal licik dari Prameswari. Akhirnya Tunjungsari kembali ke kerajaan dan    Tunjungsari menjadi ratu menggantikan ratu sebelumnya dan diberi julukan Sekarkencana.
Raja dan Tunjungsari inget kepada putranya yaitu Panji Wulung. Raja kemudian mengutus Patih Sokadana untuk mengunjungi Panji Wulung di Cempa serta memberitahukan bahwa ia diundang ke Sokadana. Panji Wulung sangat senang karena akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Panji Wulung kemudian meninggalkan Cempa sementara untuk menemui kedua orangtuanya di Sokadana. Selama di Sokadana Panji Wulung juga menyaksikan pesta penyerahan kerajaan kepada Panji Pamekas menggantikan Raja Prabu. Panji Wulung membimbing Pamekas yang diberi julukan Dewabrata mengenai soal-soal kenegaraan. Sokadana menjadi lebih makmur.
Di Cempa, setelah mendengar bahwa Raja Cempa meninggalkan keraton, Andakasura membujuk Patih Cempa untuk melawan rajanya karena setelah raja pulang dari Sokadana maka prajurit dan patih akan digantikan oleh orang-orang Sokadana. Andakasura juga membujuk istri patih agar suaminya memberontak kepada raja. Akhirnya Patih Cempa terbujuk oleh Andakasura dan menjadikan dirinya sebagai Raja Cempa dengan julukan Dewasaksi, patihnya adalah Suridapati dan Andakasura dijadikan panglima perang.
Ketika ada kabar bahwa Panji Wulung akan kembali ke kerajaan. Pasukan Cempa yang memberontak pergi ke pelabuhan untuk menyerang rombongan Panji Wulung. Setelah sampai di pantai, rombongan Panji Wulung diserang dengan tembakan meriam. Rombongan sangat kaget dan kembali ke tengah laut. Kemudian datang Jayaperbangsa yang berhasil melarikan diri dari Cempa menceritakan bahwa patih telah memberontak dan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.Ketika pasukan Panji Wulung akan menyerang kembali, datang balabantuan dari Kerajaan Gilingwesi. Perang terjadi di pantai dan di laut, sampai akhirnya pasukan Panji Wulung yang dibantu oleh pasukan Gilingwesi berhasil mengalahkan pasukan pemberontak. Tetapi, Patih yang memberontak dan Andakasura berhasil melarikan diri.
Raja Gilingwesi sangat murka dan berniat untuk penghukum mati prajurit-prajurit yang memberontak. Tetapi Panji Wulung tidak ingin menghukum mati mereka dan memaafkannya. Panji Wulung kembali ke keraton dan mengangkat patih baru yaitu Urawan dan diberi julukan Surengjurit.
Patih yang memberontak dan Andikasura hidup sengsara di hutan. Patih menyesal telah memberontak kepada raja. Suatu hari, mereka tertangkap oleh rakyat dan dibawa ke keraton. Mereka kemudian dibawa ke pengadilan. Patih yang memberontak diberi pengampunan sedangkan Andikasura dihukum mati. Kemudian Kerajaan Cempa menjadi aman dan makmur.

0 comments:

Post a Comment